Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Cerita Ngentot Sang Pramugari Binal Ku
Tradingan.com - Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “S”, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita “Rahasiaku” kepada situs ini.
*****
Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju. Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.
Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,
“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.
Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.
Artikel Terkait
Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.
Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,
“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.” Lanjut baca!
Cerita Seks Sentuhan Toket Antara Perempuan 2
Aopok.com - Dengan bibir yang terus melumat buah dadaku serta menggigit puting susuku, jari-jari Indri mempermainkan kelentitku. Uhh, rasanya aku tenggelam dalam samudra kenikmatan yang tak terhingga.. Geliat-geliat tubuhku menggila disertai dengan rintihan yang disebabkan tak mampunya aku menerima kenikmatan yang datang melanda bak topan di lautan. Kujambak rambut Indri hingga menjadi awut-awutan. Dan Indri sendiri semakin kesetanan. Jari-jarinya berusaha menembus lubang vaginaku. Aku merasakan kegatalan sekaligus kenikmatan yang dahsyat. Bibir lubang vaginaku mengencang.., ingin ditembus tetapi malah merapatkan pintunya. Sungguh suatu ironi yang sangat.
Pada gilirannya dilepasnya kuluman di dadaku. Tangannya membuka lepas celana dalamku. Indri langsung menyorongkan mukanya ke pahaku. Ke selangkanganku. Wajahnya mengendus seluruh permukaan kemaluanku. Hidungnya menyergap aroma yang keluar dai kemaluanku. Dan lidahnya dengan segera menemukan lubang vaginaku. Langsung menjilatinya.
Aku sendiri menjadi mabuk penuh kenikmatan. Aku mengerang dan terus menggeliat. Kali ini aku menginginkan bibir Indri, lidah Indri, mulut Indri seluruhnya menelan kemaluanku. Aku angkat-angkat pantatku agar Indri dapat dengan cepat melahap semuanya. Aku ingin Indri cepat-cepat menghilangkan kegatalan yang menerpaku.
Aku dapat merasakan daerah vaginaku telah membasah. Cairan birahiku mengalir dengan deras sekali. Kudengar bibir Indri yang menjadi sibuk menyedot cairan itu. Kedengaran seperti anak-anak minum es krim dari tempatnya, menjilat-jilat, menyedot dan melahap hingga cangkir-cangkirnya ikut termakan. Aku merasakan Indri sedang ‘memakan’ kemaluanku.
‘Indrii.., aku tidak tahann.., oohh.., gatal sekallii.. Indrii..’.
Kudengar nafas Indri makin memburu. Hh.., hh, hh, hh, hh, hh.. Tangannya meliar. Dia melepas sendiri pakaiannya, dia renggut kancing celana dan menarik resluitingnya dan dengan serta-merta dilemparkannya ke lantai celana jeansnya. Kemudian dia rengkuh kaki kananku, ditarik dan ditungganginya. Dijepitnya kakiku di selangkangannya, diarahkannya jari kakiku. Diarahkannya jari-jari kakiku ke lubang vaginanya, dia desak-desakkan ke lubang vaginanya. Dia merintih, mengaduh, oohh.., hh.., hh..
Saat akhirnya lubang itu melahap ujung-ujung jari kakiku Indri, mulai melakukan gerak memompa. Dijadikannya jari-jari kakiku sebagai pengganti penis lelaki. Pantatnya naik turun menarik dan mendorong kemaluannya melahap jari-jari kakiku. Baru kali ini aku melihat perempuan sedemikian kehausan. Indri tidak lagi mempedulikan penampilannya. Dia tidak lagi merasa perlu menjaga penilaian orang lain terhadap dirinya.
Indri sedang dipacu oleh nafsu birahinya yang bergolak-golak seperti kawah gunung berapi yang hendak memuntahkan laharnya. Pantatnya yang semakin indah di mataku itu terus naik turun bak alun samudra.., terkadang dipercepat terkadang melambat mengikuti alir birahinya yang datangnya juga bergelombang-gelombang..
Hingga.. akhirnya dengan teriakan bak lolong serigala betina, ‘Mbak Marinii.. ma’afin akkuu.., oohh.., oohh.., oohh.. Maarriinii..’.
Indri meraih puncak kepuasan birahinya. Orgasmenya. Sesudah itu ia langsung rebah ke lantai. Kulihat keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, blusnya, rambutnya, pada tubuhku, bahkan pada karpetku. Aku sedemikian terpana oleh birahi yang baru saja menyerangnya.
Aku menyaksikan kepuasan tak terhingga pada Indri. Kubiarkan dia. Nafasnya tersengal-sengal. Pelan-pelan aku bangkit menuju dapur, pasti akan nikmat jika dalam panas Jakarta serta panasnya permainan birahi Indri yang melelahkan ini disegarkan dengan segelas besar orange juice dingin dari lemari esku.
Artikel Terkait
Di depannya aku meminum beberapa teguk dari gelas itu. Kemudian kuserahkan padanya. Indri dengan penuh kehausan langsung menerima dan meminumnya hingga tandas habis. Kembali senyumannya merebak yang selalu diiringi dengan dekik lesung di pipinya.
‘Terima kasih, Mbak Mar, ohh.. thanks bangett.. untuk segala-galanya.. untuk.., nih.., nih.., nih.., nih.., nih.., nih..’, sekali lagi senyumnya mengembang dengan disertai gaya humor segarnya dengan tangannya menjamah bibir, leher, dada, paha, jari-jari kaki, jari-jari tangan dan vaginaku dengan kata-kata “nih.., nih.., nih..” itu. Lanjut baca!
Cerita Sex Sentuhan Toket Antara Perempuan 1
Tradingan.com - Aku memiliki tetangga baru. Lima rumah dari samping rumahku. Sore ini pada pukul 5, tetangga baru itu mengundang para tetangga di sekitarnya untuk minum teh bersama. Mungkin maksudnya sebagai acara perkenalan sebagai warga baru di kompleks perumahan di mana aku tinggal.
Pada saat aku hadir, sudah hadir beberapa ibu-ibu di sana. Bu Indri, demikian memperkenalkan dirinya padaku, menjemputku di pintu. Dipeluknya aku, mencium pipi kiri dan pipi kanan.
‘Terima kasih Bu Marini, ibu telah sudi menghadiri undangan kami. Ohh, ibu cantik sekali dan sangat seksi..’, demikian dia ucapkan terimakasihnya atas kedatanganku.
Kalimat yang pertama merupakan ucapan yang biasa dan diucapkan secara biasa pula, dimana para tetamu sebelumnya ikut mendengar ucapan Bu Indri itu. Tetapi pada kalimat berikutnya, Indri, demikian selanjutnya aku dan dia sepakat untuk saling memanggil nama saja, dia ucapkan dengan berbisik dengan lebih melekatkan bibirnya ke telingaku, hingga kurasakan hembusan nafasnya yang menyapu daun telingaku. Kalimat macam itu, walaupun aku berbunga-bunga mendengarnya, tetapi tidak lazim diucapkan dalam pertemuan pertama untuk saling berkenalan.
Aku mengucapkan terima kasih kembali. Dan kami langsung saling pandang. Aku merasakan pandangan Indri yang tajam. Saat itu aku sedikit kagok, tidak tahu mesti bersikap bagaimana, kecuali cara yang sebagaimana lazimnya, menunjukkan perasaan senang bertemu dengan kenalan baru.
Saat duduk, aku perhatikan tetangga baru ini. Indri, suaminya adalah pelaut kapal pesiar milik perusahaan Amerika. Kapalnya 6 bulan sekali merapat di Tanjung Priok. Artinya Indri hanya dapat bertemu dan berkumpul dengan suaminya dua kali setahun setiap 6 bulan sekali. Koq tahan ya ..
Sepintas dengan nada-nada humor yang mudah ditangkap telinga para tamu, Indri menceritakan kehidupannya, keluarganya, suaminya hingga hobbynya. Sebagai wanita yang cukup berpendidikan, S1 Sosial Politik dari UI, dia senang mengatur rumah.
Kuperhatikan, rumahnya yang relatif kecil ini, type 76 BTN, dia atur dengan sangat pas. Artinya tidak berlebihan, tetapi juga tidak kurang. Dia menempatkan ruang makan menyatu dengan dapur. Dan kitchen set pada dapur itu, nampak ‘elegan simplicity’. Meja dapurnya yang beralaskan batu oniq, terkesan bukannya memamerkan kekayaan, tetapi lebih menekankan fungsinya sebagai landasan pemotong sayur yang hygienis.
Artikel Terkait
Untuk ruang tamunya dia pilih mebel gaya Raffles dengan kayu jati tanpa politur kecuali cukup dengan semir, hingga terkesan tua dan elegan pula. Tetapi pada dindingnya kulihat reproduksi yang mahal dari lukisan Bunga Matahari karya Van Gogh. Dia bilang itu pembelian suaminya saat mampir ke Paris. Setahuku, walaupun itu reproduksi, harganya tidak kurang dari US$ 5.000,00 atau sekitar 40 juta rupiah. Sungguh menunjukkan selera seni yang cukup hebat bagi keluarga ‘awam’ seperti keluarga Indri ini. Aku sungguh respek pada seleranya itu.
Indri sendiri menunjukkan pribadinya yang hangat. Usianya kuperkirakan tidak lebih dari 25 tahun, namun nampak matang dan cerdas. Dia selalu tersenyum pada lawan bicaranya. Manis. Pipinya ada cekung kecil saat melepas senyumannya. Dia mendatangi satu persatu tamunya tanpa membeda-membedakan. Dia senang memulai pembicaraan, seakan semua yang hadir telah akrab baginya. Dengan kelincahannya itu, dan ditunjang pula dengan postur tubuhnya yang ideal, tingginya sekitar 170-an dengan postur tubuhnya yang relatif langsing dan nampak sehat, Indri menjadi pribadi yang cukup menarik. Indri sangat manis dan sensual. Aku yakin libido para pria pasti mudah bangkit saat menghadapi perempuan macam Indri ini. Lanjut baca!
Kisah Seks Pengalaman Ibu Toker Jumbo Montok
Tradingan.com - Sebenarnya saya malu untuk menuliskan cerita ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk menuliskan cerita-cerita tentang seks walaupun saya sendiri tidak yakin apakah itu semuanya fakta atau fiksi belaka. Memang cerita yang saya tulis ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami.
Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota-maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan.
Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.
Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan.
Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, “Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?” (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.
“Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya.”
“Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng.”
“Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.”
“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ.”
“Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda.”
“Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama kerjaannya. Terlalu sering capek.”
“O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. ‘Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu.”
“Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo’ saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri ‘kan.”
“Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?”
“Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo’ bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng.” Baca selengkapnya!
Cerita Anal Sex - The Blue Broadcasting 2
Tradingan.com - Hari pertama kujalani begitu ‘panas’, karena melihat secara langsung aktivitas seks para gay dari balik lensa. Mereka beradu dengan erotisnya di atas ranjang di ruang utama, lalu babak ke 2 di kamar mandi, lalu malamnya di depan perapian. Setiap selesai bermain, mereka pasti saling memimikkan penis mereka, saling berebut cairan putih kental yang pasti mereka telan sampai habis tak bersisa. Wah-wah-wah.. aku bingung dengan jati diriku ini, melihat situasi seperti ini kenapa aku juga punya hasrat untuk melakukannya dengan sesama jenis. Pak Canetti selain menjadi produser, beliau juga bertindak sebagai Sutradara. Tapi ia tidak terlihat horny dengan menyaksikan hal yang sudah pasti disukainya di depan mata.
Hari kedua juga berjalan serupa, makin panas dan menggairahkan. Kali ini di tempat terbuka, di taman, lalu di dekat telaga buatan, dan terakhir di dalam garasi. Aku yang menyaksikan setiap detik framenya sudah tidak tahan lagi dengan nafsu seks yang meluap-luap, tapi aku bingung, apa aku harus meminta pada mereka atau sebaiknya cari jalan lain, onani misalnya. Malamnya, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi, aku memeloroti celanaku, lalu duduk di atas ranjang, meludahi penisku dan mengocoknya. Saat itu aku tidak sadar, karena sedang asik-asiknya menikmati kocokanku sendiri sehingga tidak mengetahui kalau seseorang masuk ke kamarku. Aku juga tidak melihat siapa yang masuk karena kebetulan aku lagi merem. Tiba-tiba orang itu mengulum kepala penisku, dijilatnya, diisapnya dan dikenyotnya sampai basah semua batang kontolku. Ternyata orang itu adalah Pak Canetti.
Tanpa basa-basi sedikitpun, dia segera menelanjangiku, membuka kancing kemejaku satu per satu, menarik celana panjangku yang sedah merosot selutut. Kini aku hanya mengenakan singlet saja, lalu tanpa pikir panjang, segera kubuka baju Pak Canetti, dan ia akhirnya tidak tertutupi sesenti benang sekalipun. Badannya dipenuhi bulu halus, sedangkan bulu di selangkangnya lebatnya bukan main. Dia menari-nari kecil di depanku, meletakkan kedua tangannya di atas pundakku dan akhirnya mulai menciumiku sepenuh hati. Aku layani ciumannya dengan membalas juga dengan ganasnya. Pak Canetti bernafas berat, dia mengerang lembut di dalam pendengaranku, kemudian ia mulai menjilati seluruh permukaan wajahku, turun ke dadaku dan melahap ketiakku. Setelah puas dengan bagian kiri dan kanan ketiakku, dia turun menyusuri otot-otot perutku dan mulai mencium kontolku yang menegang dan mulai memerah.
Artikel Terkait
Aku cuma bisa mengerang menahan rasa nikmat yang menjalar sampai ke seluruh permukaan kulitku. Segera Pak Canetti memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Begitu bernafsunya Pak Canetti sehingga dia seperti sedang mabuk saat mengisap kontolku. Tak lama kemudian aku tersadar, bahwa ini sudah diluar kewajaran. Segera kuhentikan tindakan Pak Canetti padaku. Lanjut baca!
Cerita Anal Sex - The Blue Broadcasting 1
Biodataviral.com - The Blue Broadcasting 1 2
Pertama kali ini aku menginjak tanah melayu, Malaysia. Di sana aku ditawari pekerjaan oleh sepupuku yang berprospek besar untuk masa depanku nanti, yaitu menjadi seorang penulis dan kamerawan.
“Kamu pastilah lulus nantinya.” Tegas sepupuku dengnan penuh keyakinan.
“Kau bercanda.” Balasku tak percaya.
“Aku tak bohong kau tahu!” Serunya kembali.
Sampai aku menerima pekerjaan itu di negeri Jiran, aku masih belum percaya aku bisa diterima, mungkin saja sepupuku memakai uang pelicin untuk menembus stasiun televisi yang megah itu.
Baru beberapa hari bekerja, aku sudah bisa menikmati yang namanya menginap di hotel mewah karena event besar yang diadakan tempat kerjaku. Maklumlah, saya orangnya kampungan, baru melihat sebuah monitor LCD 17 inchi tempatku mengedit film mataku sudah membelalak dan mulutku tak berhenti bertanya kepada orang yang ada di depan layarnya. Kali ini sepupuku yang bernama Hadi (23) itu berbusana bak seorang milyuner saja, dia mengenakan setelan jas putih dengan tuksedonya yang lux. Aku heran saja sambil melongo.
“Dia sakit tidak yah?” Pikirku sambil menggaruk kepala.
“Aku mau jadi manajermu saja ya Bang.” Katanya sambil memamerkan senyumnya yang lebar.
“Memang kenapa? Lagian ngapain pake-pake begituan segala?” Tanyaku saat ia tiba-tiba menarikku ke pintu yang menuju backstage studio 3.
“Kamu ditawarin sesuatu sama mister Canetti. Buruan!”.
Nama itu sangat asing ditelingaku, ‘Canetti’ itu nama yang sangat aneh pikirku?
Tak jauh dari pintu, seorang bapak-bapak berbaju pantai yang coraknya penari hula-hula_lagaknya seperti seorang germo_berdiri tegak menikmati rokoknya.
“Ini dia Pak Canetti”.
Hadi memperkenalkanku padanya, saat itu aku tidak tahu apa-apa.
“Hmm.. betul-betul barang bagus Hadi, kerja kamu sempurna.” Katanya dengan aksen yang aneh, dia bukan orang Malaysia rupanya.
Artikel Terkait
Pak Canetti tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk bersalaman, aku reflek saja membalas salamnya.
“Saya Canetti Moreno dari Filipina, senang bertemu dengan anda tuan..?” Sapanya sekaligus bertanya.
“Aaa.. Nugroho, nama saya Nugroho.” Kemudian dia kembali tersenyum, tapi kali ini senyumnya aneh, seperti sedang menggoda wanita cantik saja. Lanjut baca!






Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...